We are Building a Future

•June 14, 2011 • 2 Comments

“We are not just building a library, we are building a future.” itulah tagline Komunitas Jendela yang baru saja dicetuskan. Mungkin kami memang naif, bagaimana bisa sebuah perpustakaan menentukan masa depan? Kami yakin itu bisa. Suatu hari di masa depan, kami ingin melihat anak-anak yang membaca di perpustakaan yang kami bangun dapat membantu mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Suatu hari nanti, besar harapan kami bahwa seseorang yang nantinya memegang peranan penting bagi kemajuan Indonesia bercerita seperti ini:

“Saya bisa menjadi seperti sekarang ini, menginspirasi banyak orang, merubah banyak hal di Indonesia karena sebuah pengalaman di masa kecil saya. Bertahun-tahun lalu, saya hanyalah seorang anak yang tinggal di wilayah Cangkringan, Sleman, DIY. Ketika itu, Merapi baru saja memuntahkan isinya, muntahan terbesar sejak beberapa dekade. Saya kehilangan rumah saya dan tempat bermain saya karena terjangan awan panas.

Saya tanya kepada anda, apa yang bisa diharapkan dari seorang anak yang tinggal di pengungsian? Masa depan apa yang menunggu bagi seorang anak yang kehilangan sama sekali minat belajarnya karena semua buku dan ijazah lamanya musnah terhapus awan panas?

Saat itu, saya bertemu dengan beberapa relawan yang “aneh” menurut saya. Di saat semua LSM dan organisasi lain hanya sibuk mengurusi kegiatan ekonomi, atau melatih kami di shelter untuk melarikan diri dari bencana di masa depan, relawan-relawan itu malah membangun perpustakaan untuk anak-anak di shelter. 

Saya tak tertarik pada awalnya, siapa juga yang mau duduk diam dan membaca ketika kita bisa bermain sepeda dan layangan sepanjang hari? Namun lama kelamaan, saya mulai tertarik dengan semua permainan yang para relawan itu berikan, permainan yang baru belasan tahun kemudian saya ketahui sebagai permainan yang mendidik.

Dan disinilah saya sekarang, memegang sesuatu yang kalian sebut sebagai “kesukssesan”, entah dimana juga para relawan itu saat ini. Saya juga sudah lupa dengan nama organisasi mereka, namun peristiwa itu sungguh merubah seluruh hidup saya, hingga akhirnya saya terus menerus haus untuk belajar dan berusaha menjadi lebih baik setiap harinya. Saya saat ini sudah sadar, bahwa mereka tidaklah hanya membangun sebuah perpustakaan, namun mereka juga membangun masa depan.”   

Ya, kami akan sangat senang sekali jika hal itu dapat terjadi, karena sebuah kejadian kecil saja dapat berdampak banyak bagi hidup seseorang, dan yang kami harapkan adalah semua kegiatan kami ini dapat berguna dan dapat membantu anak-anak di shelter  untuk merajut masa depan mereka sendiri.

Tak perlulah kami diingat sebagai sebuah komunitas yang hebat, apalagi dipuja sebagai para pahlawan kesiangan. Yang kami butuhkan saat ini hanyalah sebuah senyuman dari seorang anak di shelter ketika kami datang dan mengajak mereka untuk membaca. Hidup memang sangat simpel, terutama jika kita tahu apa yang benar-benar kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

 

NB: Titip semangat juga untuk anggota Jendela yang sudah siap berangkat ke lokasi penempatan Indonesia Mengajar, dimanapun kalian berada, kalian tetap keluarga Jendela. Berbuatlah lebih besar daripada yang kami lakukan disini, kami percaya kalian bisa melakukannya.

NB 2: Kami ucapkan selamat juga untuk beberapa relawan kami yang akhirnya bisa mengembangkan sayap mereka dan meninggalkan Jogja, sungguh bekerja bersama kalian adalah suatu hal yang menyenangkan! Kalian juga adalah bagian keluarga besar Jendela, bukan begitu?

 

Taofan Firmanto Wijaya

Advertisements

Hasil Kerja Keras Kita Semua

•May 6, 2011 • 4 Comments

Akhirnya kerja keras kita semua sudah mulai mewujud! Terima Kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu, komunitas #BERBAGI, CSMCargo teman-teman komunitas jendela, teman-teman relawan di Shelter Gondang 1 Cangkringan, ICBC, dan tentu saja semua donatur yang sudah mengirim buku dan uang untuk anak-anak Shelter Gondang 1. Ini hasil kerja keras kita semua:

Andai bisa kami rekam juga mata anak-anak yang berbinar-binar melihat perpustakaan mereka yang sudah mulai mewujud. Andai juga semua rekan yang terlibat dapat melihat sendiri betapa antusias mereka membaca buku-buku itu dan bertanya kepada kami buku yang mana yang menarik untuk mereka baca. Andai saja teman-teman semua bisa mendengar pertanyaan-pertanyaan mereka: “Nanti akan penuh kan mas perpustakaan ini?”. Atau komentar salah seorang anak waktu diperlihatkan bagaimana lengkapnya koleksi buku di tempat lain: “Mungkin gak ya mas, perpustakaan ini bisa punya buku sebanyak itu?”

Kami hanya bisa berkata: “Insya Allah, mungkin saja suatu saat nanti.”

Teman-teman mau mewujudkan harapan mereka itu? Klik disini untuk cara menyumbang.

Terima Kasih.

ICBC dan Komunitas Jendela dalam Sebuah Workshop Perpustakaan

•May 4, 2011 • Leave a Comment

Perpustakaan barangkali merupakan hal yang elit bagi anak-anak pengungsi merapi, walaupun mereka sebelumnya pernah mengenal perpustakaan sekolah, tetapi kondisinya begitu minim baik dari segi koleksi maupun pengelolaannya. Berangkat dari keprihatinan akan kondisi tersebut maka Komunitas Jendela merintis sebuah perpustakaan, yang diharapkan dalam lima bulan kedepan sudah dapat dikelola secara mandiri oleh anak-anak di Shelter Gondang 1 Cangkringan.

Dalam penyelenggaraan sebuah perpustakaan, pengelolaan adalah suatu hal yang sangat penting, ICBC (Institute Community for Behaviour Change) ikut membantu Komunitas Jendela dalam proses pengelolaan perpustakaan Shelter Gondang 1. Sebagai sebuah langkah awal, ICBC dibantu oleh Komunitas Jendela mengadakan sebuah workshop keperpustakaan untuk membekali anak-anak mengenai seluk beluk perpustakaan dan pengelolaannya. ICBC sudah menemani anak-anak di shelter itu sejak awal erupsi, dan mereka sangatlah dekat dengan anak-anak disana. Learning by doing adalah kata yang tepat untuk menggambarkan aktivitas mereka saat mengikuti workshop. Di sebuah tempat yang berbilik bambu dan beratap seng itu, mereka begitu antusias mengikuti proses tahap demi tahap, mulai dari buku masuk hingga buku tersebut bisa dipinjam.

Workshop perpustakaan yang berlangsung pada hari Sabtu, 1 Mei 2011 ini mendapatkan sambutan yang begitu hangat dari anak-anak disana. Sungguh, kerja keras kami terbayar semuanya melihat antusiasme mereka. Kami berharap ini adalah titik pijak yang baik untuk kedepannya sehingga mereka bisa mengelola secara mandiri dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan dengan baik. Semoga apa yang telah kami lakukan dapat memantik minat baca mereka sehingga cakrawala pengetahuan mereka semakin luas. Amin.

Dengan ini juga kami mengucapkan terima kasih banyak kepada ICBC yang telah berbagi pengetahuannya tentang pengelolaan perpustakaan. Sungguh, masih banyak kekurangan yang kami miliki, dan kami ikut belajar bersama anak-anak diatas.

Oleh Emi Setyaningsih, dan diedit seperlunya oleh Taofan.

Ketika Jendela (Agak) Tertutup

•April 25, 2011 • Leave a Comment

Saat ini Komunitas Jendela sedang berduka sekaligus bangga. Sebagian besar dari anggota kami sudah berangkat hari ini untuk mengikuti training Indonesia Mengajar. Setelah mengikuti training selama 7 minggu, mereka akan mengajar selama setahun di seluruh penjuru Indonesia.

Kami berduka, karena kami akan kehilangan kebersamaan yang sudah terjalin erat selama ini. Ya, kami sudah sangat merindukan kalian, bahkan pada saat kami mengantar kalian semua berangkat tadi pagi. Diantara gelak tawa dan pelukan hangat, terselip setetes air mata kerinduan. Setahun lagi, kami akan menunggu kalian disini, di antara tawa riang anak-anak dan aroma buku bekas ini.

Kami bangga, karena kalian adalah sinar cerah bagi pendidikan Indonesia. Teruslah menginspirasi! Semangat yang kalian tinggalkan di jogja pasti masih tersisa hingga saatnya nanti kalian dapat kembali lagi. Sungguh tak sabar menanti setahun berlalu, bukan hanya atas nama kerinduan, namun juga kami ingin melihat sejauh mana kalian akan berkembang disana. Tempaan medan yang berat dan perasaan setahun tercerabut dari akar tempat kalian berpijak pasti akan membuat kalian berkembang lebih hebat lagi.

Jasmerah, kata pendiri bangsa ini. “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”, ini satu-satunya pesan kami untuk kalian disana. Ingatlah akan semangat kalian disini, dan gunakan itu disana. Ingatlah senyum tawa canda kita ketika kalian mengalami masa-masa terberat disana, dan jadikan itu pijakan disana.

Saat ini, Jendela agak tertutup, dan kita semua hanya bisa mengintip sedikit apa yang terjadi diluar sana. Namun, orang-orang baru akan terus datang, dan membuka Jendela ini semakin lebar lagi, untuk dapat terus berbagi bersama anak-anak Indonesia. Hingga saatnya setahun lagi tiba, dan kita tertawa bahagia melihat Jendela yang terbuka lebar nantinya.

Taofan Firmanto Wijaya

Laporan Kegiatan Outbond dan Total Donasi Diterima

•April 3, 2011 • 2 Comments

Teman-teman Komunitas Jendela sudah berhasil melaksanakan outbond “Berpetualang bersama buku” pada tanggal 27 Maret 2011 di kawasan shelter merapi gondang I, Wukirsari, Cangkringan. Dokumentasinya bisa dilihat dibawah ini.

Diatas bisa kita lihat suasana Shelter Merapi Gondang I, Wukirsari, Cangkringan. Lihat juga senyum anak-anak diatas, sungguh kami merasa beruntung dapat bermain dan tertawa bersama mereka.

Disini juga kami akan melaporkan hasil donasi sementara hingga tanggal 04 April 2011 pukul 03:55

Pemasukan: Rp. 1.900.000,-

Pengeluaran untuk outbond: Rp 356.100,-

Saldo sementara: Rp. 1.543.900,-

Total Donasi Buku hingga 01 April 2011: 453 buku.

Seluruh buku sudah dibawa ke Shelter Gondang I Cangkringan.

Bagi teman-teman yang lain, silahkan jika ingin berkontribusi dan berpartisipasi, kami masih membutuhkan relawan untuk perpustakaan dan mobile library, untuk perpustakaan tidak terikat waktu dan bertempat di perpustakaan Shelter Gondang I, untuk mobile library minimal 3 kali seminggu dan bertempat di sekitar desa cangkringan. kirim saja email berisi biodata sederhana dan no kontak ke: KomunitasJendela@gmail.com

Untuk cara bantuan dana dan buku silahkan dilihat post sebelumnya disini.

Terima kasih.

Masuk
Rp100,000
Rp250,000
Rp100,000
Rp200,000
Rp150,000
Rp200,000
Rp100,000
Rp50,000
Rp250,000
Rp50,000
Rp200,000
Rp50,000
Rp200,000

Saat Jendela Telah Terbuka

•April 3, 2011 • 1 Comment

Sejak sore tadi gemericik hujan masih membasahi bumi merapi. Lukisan awan hanya berarsir dua warna, abu-abu dan hitam. Setelah sholat maghrib kupercepat langkahku menyusuri beberapa bagian rumah bambu menuju sebuah rumah bambu di bagian yang lain. Jalan yang kulewati hanya tumpukan-tumpukan batu dan tanah yang bergelombang karena terseok derasnya air hujan. Penerangan pun hanya dari senter yang kupegang.

Suasana malam di Shelter Gondang I

Kali ini aku singgah di sebuah rumah, sambil menahan rintihan angin pegunungan yang menyelinap di jaketku aku memasuki rumah Alex. Kontras sekali suasananya dengan di luar, karena di dalam bangunan temporer yang berukuran 6 x 6 meter itu muncul kehangatan yang bersumber dari berkumpulnya anggota keluarga yang lengkap; ada kakek, nenek, ayah, ibu, paman, dan Alex.

Setelah beramah-tamah dengan seisi rumah, konsentrasiku mengikuti arah pandangan seisi rumah, berpindah pada satu buah produk china yang teronggok di atas rak kayu. Benda yang menyerupai kubus itu mampu memberikan informasi melalui audio visual yang terlihat dan terdengar. Tidak bisa dipungkiri, televisi adalah media informasi dan hiburan yang paling akrab dengan masyarakat kita, tak memandang agama, tak mengukur usia.

Alex, anak brilian yang sering mewakili sekolahnya untuk lomba beberapa mata pelajaran, malam ini matanya masih terfokus pada benda kubus tadi. Kutanya kenapa dia tak belajar malam ini? Jawabannya sederhana, “Ndak ada PR Mas Arip”. Kalaupun mau belajar kelompok dia harus keluar rumah, padahal di luar masih hujan, dan gelap, jadilah melihat tayangan televisi bersama dengan anggota keluarga adalah solusi sesaat yang mungkin baginya cukup tepat.

Sayangnya, aku kurang sepakat. Continue reading ‘Saat Jendela Telah Terbuka’

Jendela Cangkringan : Meretas Masa Depan Lewat Buku

•April 3, 2011 • 3 Comments

Kakak Relawan

Senyummu penuh arti

Kau membantu kami membangun hidup kami

Kau buat kami tetap bertahan

Menatap masa depan yang tak pasti

(sumber)

Apa kabar korban erupsi Merapi?

Sudah 5 bulan berlalu dan mereka masih terus berjuang, bahkan bertekad merintis hidup baru. Pun demikian dengan anak-anak. Di Shelter Gondang 1 Cangkringan, hunian sementara korban erupsi Merapi, keterbatasan fasilitas tidak menghentikan antusiasme dan semangat belajar mereka. Ketakutan akan masa depan, seperti yang tersirat dalam puisi di atas, terkikis perlahan berkat kegigihan para relawan. Anak-anak menjadi punya harapan, punya keberanian untuk terus berjuang. Tak heran mereka begitu bersyukur atas kehadiran para relawan.

Lalu bagaimana dengan kita yang tidak bisa menjadi relawan, namun ingin ikut berbagi semangat kepada anak-anak itu? Continue reading ‘Jendela Cangkringan : Meretas Masa Depan Lewat Buku’